
A poem for birthday my wife.
Our Bench Place sit first
Have transformed to become unshakeable reef
River becoming place drift foreign words
Have come to wide of sea
Become chummy in our chest
Become wise and old
Become us
Night shouldering is worn-out of us
Have come to dome is full of secret
Our place read black crust incision rights and responsibility
Until you weep in my chest
Until you is myself room conciousness, what do not
ready to accomodate my love
Until you ask my tear items
That my love do not simply obligation and responsibility
April 2008
Surat Cinta Buat Erliana
Bangku tempat kita duduk dulu
Telah menjelma menjadi batu karang yang teguh
Sungai yang menjadi tempat hanyut kata-kata asing
Telah menjadi laut yang luas
Menjadi akrab di dada kita
Menjadi tua dan bijaksana
Menjadi kita
Malam yang memikul letih kita
Telah menjadi kubah penuh rahasia
Tempat kita membaca guratan jelanga hak dan tanggung jawab
Sampai kau menangis di dadaku
Sampai kau sadar ruang diriku, yang tak
sanggup menampung cintaku
Sampai kau tanyakan butir-butir air mataku
Bahwa cintaku tak sekedar tanggung jawab dan kewajiban.
April 2008
Puisi di atas, secara khusus memang setahun lalu kutulis untuk istriku, Semoga Allah merahmatinya, dan senantiasa menjaga imannya hingga akhir. Kali ini, postingan blog ini biar aja kutulis untuk sejenak mengenang salah satu kejaiban hidup, yakni jodoh. Sebagai rahasia Allah selain kematian dan rezeki. Perkawinan dengan istriku adalah pencetus api kesadaranku akan kekuasaan Tuhan terhadap jalan hidup manusia. Selama lima tahun menikah setidaknya ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan tentang pernikahan.
1.Menikah memang butuh totalitas diri dalam menjalankan pernikahan itu sendiri, keutamaan niat dan keihkhlasan diri untuk merubah segala perilaku dan kebiasaan yang dipandang kurang baik dan akan menjadi kerikil dalam pernikahan.
2.Menikah dan berumah tangga adalah benar-benar ladang ibadah yang senantiasa membentuk pribadi kita, tentunya dengan usaha-usaha kita melaksanakan segala idealisme kehidupan perkawinan kita. Untuk kita orang Islam tentunya menjalankan segala ibadah sesuai tuntunan agama.
3.Dalam pernikahan betapa egois tidak bisa dipegang erat-erat. Kita mesti belajar- dan terus belajar bagaimana melepaskannya pelan-pelan, mengedepankan pengertian dan sekuat tenaga mempertahankan romantisme dan kebaikan-kebaikan perhatian sebagaimana tahun pertama menikah.
4.Ibadah adalah latihan, termasuk menikah itu sendiri. Sehingga diri menemukan bagaimana semestinya cinta ditempatkan, perkawinan adalah tempat mengenal cinta, membiarkan diri mencintai, dan memahami satu persatu wujud cinta hingga akhirnya menyengajakan diri mencintai Allah dengan jalan sebuah tarekah adalah skenario cinta yang benar.
5.Cinta memang berkuasa atas pekawinan, namun ketika pernikahan itu didasarkan atas kecintaan kepada Allah, niscaya tak perlu cinta hamba sejak memulai pernikahan. Cukup dengan kewajiban-kewajiban dan hak yang dinamis dan dijalankan dengan baik lillahita'ala sebentuk cinta kokoh akan terbangun dalam rumah tangga.
6.Kita tak bisa membiarkan diri menerima kesempatan-kesempatan untuk tumbuhnya cinta yang lain. Sekedar memupuskan kebosanan atau memang sering tak terasa perasaan kita adalah nafsu yang menyamar dengan topeng terlanjur atau kita buta sama sekali sehingga ada yang tersakiti. Kecuali kuasailah ilmu untuk itu, dan takutlah akan ketidakadilan.
7.Anak adalah bentuk kebahagiaan yang amat sangat dalam kehidupan rumah tangga. Seorang bapak muda akan menemukan satu dimensi cinta baru ketika menyambut anaknya yang baru lahir.
Lanjutannya nanti. Bagaimana menurut Anda, Ada komentar ??